HARI KARTINI
andai layak lelaki ini menangis
tlah kubasahi jalan ini
dengan ceceran air mata
darah
perih rasa dihati
saat tangan lunglai itu
terulur lesu
menunggu orang-orang yang
ingat dikantongnya ada receh limaratus perak
dengan tubuh terbungkuk
diayunnya kaki kecil itu diantara
motor dan mobil mewah yang
menunggu lampu hijau menyala
wajah tanpa masa depan
nan papa itu
mengais iba mengulur nyawa
tak salah siapa siapa jika dia miskin
tak salah siapa siapa jika anaknya
dirumah menunggu dengan sabar
dan lapar
kedatangan ibu tercinta
dirimba nista bangsa
MENGEMIS.
- Bapak, 20 April 2013 (via imoriginalcannotbereplaced)